
Untuk anak 6 sampai 9 tahun, dan orang tua yang suka membacakan cerita sebelum tidur.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 35.000
Masuk untuk membuka aksesSuatu pagi sesudah angin kencang, Nala menemukan seekor anak burung pipit di bawah pohon jambu depan rumahnya. Ia menamainya Titik, karena ada bintik-bintik kecil di dadanya, lalu merawatnya di dalam kotak sepatu.
Sambil Titik tumbuh, Nala yang berumur delapan tahun menghadapi banyak hal yang tidak mudah: takut gelap ketika listrik padam, merasa tidak disayang lagi sejak adik bayinya lahir, berbohong soal piring Oma yang pecah, diejek karena rambut keritingnya, kalah lomba menggambar, sampai Opa yang harus dirawat di rumah sakit. Setiap malam Oma menceritakan satu kisah dari Alkitab, dan pelan-pelan Nala menemukan sendiri apa yang mau ia lakukan.
Dua belas cerita bergambar untuk dibacakan sebelum tidur, masing-masing ditutup dengan satu ayat untuk diingat, satu pertanyaan untuk ngobrol berdua, dan doa pendek yang bisa diucapkan anak.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 35.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Semalam angin bertiup kencang sekali. Wus, wus, wus! Atap seng berbunyi kletak-kletak. Daun-daun pohon jambu air menari ke sana kemari.
Pagi harinya, langit sudah biru dan bersih lagi. Nala membuka pintu rumah kayu mereka yang bercat hijau. Rambut keritingnya masih kusut, belum diikat dua.
“Wah, halaman jadi berantakan,” katanya.
Daun jambu berserakan di mana-mana. Ada ranting patah di dekat pagar. Ada juga jambu air merah yang jatuh sebelum waktunya.
Suaranya kecil sekali, seperti bunyi pintu lemari yang berderit pelan.
Nala berjongkok di bawah pohon jambu. Ia menggeser daun-daun yang basah. Di sana, di atas tanah, ada seekor anak burung. Badannya tidak lebih besar dari ibu jari Papa. Bulunya baru sedikit, tipis dan berantakan. Matanya setengah terpejam. Paruhnya kuning di pinggir.