
Seri Iman & Uang, Buku 6. Untuk kamu yang ingin bermurah hati, tetapi takut kekurangan, atau lelah dimanfaatkan.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesAda yang ingin memberi, tetapi takut kekurangan. Ada yang sudah lelah karena terus dimintai. Ada yang pernah tertipu sumbangan palsu. Ada yang merasa tidak punya apa-apa untuk diberikan. Dan ada yang memberi karena dijanjikan berkat berlipat, lalu kecewa.
Buku ini mengajakmu menemukan sukacita memberi yang sejati, bersama janda di Sarfat dengan segenggam tepungnya, Maria yang mencurahkan minyak narwastu, orang Samaria yang berhenti di jalan, jemaat Makedonia yang miskin tetapi murah hati, Dorkas dengan jarum jahitnya, dan Petrus yang tidak punya emas atau perak. Isinya: memberi dengan cinta, dengan teratur, tanpa pamer, dengan waktu dan tenaga, dengan bijak supaya tidak merusak atau tertipu, ketika sedang berkekurangan, dan belajar menerima dengan rendah hati. Tanpa janji bahwa memberi akan dibalas uang, karena kita memberi sebab Allah lebih dulu memberi.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa, bonus 30 Hari Bermurah Hati, daftar periksa Sebelum Memberi, dan panduan enam pertemuan untuk komsel. Buku keenam seri Iman & Uang.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Ingatlah perkataan Tuhan Yesus sendiri: Lebih berbahagia memberi daripada menerima. (Kisah Para Rasul 20:35)
Di pantai Miletus, sekelompok laki-laki berdiri dengan mata basah.
Mereka para penatua jemaat Efesus. Beberapa hari sebelumnya mereka menerima kabar bahwa Paulus singgah di kota pelabuhan itu dan ingin bertemu. Ia tidak sempat datang ke Efesus, karena ia sedang bergegas ke Yerusalem dan ingin tiba di sana sebelum hari raya Pentakosta. Maka para penatua itulah yang menempuh perjalanan ke Miletus, kira-kira beberapa hari berjalan kaki, untuk mendengar suara guru mereka sekali lagi.
Dan Paulus tahu, ini mungkin yang terakhir. Ia berkata terus terang bahwa ia tidak tahu apa yang menantinya di Yerusalem, selain bahwa penjara dan penderitaan menunggu di setiap kota (Kisah Para Rasul 20:22-23). Sekarang aku tahu, kalian semua tidak akan bertemu muka lagi denganku (Kisah Para Rasul 20:25).
Bagian I: Hati yang Memberi
Lebih Berbahagia MemberiBab 1 · 11 menitGratisBagian II: Memberi dengan Bijak
Miskin tetapi Murah HatiBab 7 · 12 menit