
Seri Iman & Keluarga, Buku 2. Untuk kamu yang ingin anak-anakmu bertumbuh dalam iman, dan sering merasa belum cukup baik sebagai orang tua.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesAnak yang tidak mau lepas dari layar. Remaja yang mulai menutup pintu kamarnya. Rasa bersalah karena terlalu sering marah atau terlalu jarang di rumah. Kekhawatiran tentang masa depan mereka. Dan kadang, anak yang menjauh dari iman, anak yang sakit, atau membesarkan anak seorang diri.
Buku ini menemani orang tua mendidik anak dengan iman dan kasih, bersama Yokhebed yang menaruh bayinya di keranjang di Sungai Nil, Lois dan Eunike yang menurunkan iman kepada Timotius, imam Eli yang tidak menegur anak-anaknya, Maria dan Yusuf yang tiga hari mencari Yesus remaja, Ayub yang bangun pagi-pagi mendoakan anak-anaknya, seorang ayah yang berseru tolonglah aku yang tidak percaya, dan Hagar yang mendengar bahwa Allah mendengar suara anaknya. Isinya: menitipkan anak kepada Tuhan, meneruskan iman lewat hidup sehari-hari, hadir sebagai ayah dan ibu, mendisiplin tanpa melukai, menghadapi gawai, mendampingi remaja, mendoakan anak yang menjauh, dan pada waktunya melepaskan mereka.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa, bonus 30 Hari Bersama Anak, Ibadah Keluarga Sepuluh Menit, dan panduan enam pertemuan untuk komsel. Buku kedua seri Iman & Keluarga.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Kami tidak akan menyembunyikannya dari anak-anak kami. Kami akan menceritakan kepada angkatan yang datang kemudian perbuatan Tuhan yang mulia, kekuatan-Nya, dan keajaiban yang telah dilakukan-Nya. (Mazmur 78:4)
Pernahkah kamu berdiri di samping tempat tidur anakmu ketika ia sudah terlelap? Seharian tadi mungkin rumah penuh suara, termasuk suara kita sendiri yang meninggi lebih keras daripada yang kita inginkan. Lalu malam datang. Rumah menjadi sunyi. Dan di bawah cahaya lampu yang redup, kita memandang wajah kecil yang tidur dengan mulut sedikit terbuka, rambut yang berantakan di bantal, tangan yang masih menggenggam sesuatu.
Pada saat seperti itu, banyak orang tua merasakan dua hal sekaligus. Yang pertama adalah rasa syukur yang begitu besar sampai dada terasa sesak. Anak ini, dengan segala kerewelannya, adalah hadiah. Yang kedua adalah rasa takut yang diam-diam. Apakah aku sudah cukup baik hari ini? Apakah aku terlalu keras tadi sore? Akan menjadi apa anak ini kelak? Mampukah aku menjaganya di dunia yang begini cepat berubah?
Bagian I: Membentuk Anak Panah
Pusaka dari TuhanBab 1 · 13 menitGratisBagian II: Melepaskan Anak Panah
Anak-Anak EliBab 7 · 12 menit