
Seri Iman & Uang, Buku 3. Untuk kamu yang ingin kaya, tetapi sudah lelah dengan janji cepat kaya.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesYosua, pengemudi ojek daring berusia dua puluh tujuh tahun, terlilit empat pinjaman daring, cicilan motor, dan cicilan HP yang dibelinya supaya kelihatan baik-baik saja. Istrinya belum tahu. Pesan penagih masuk setiap malam.
Suatu malam hujan, pesanan terakhirnya membawanya ke Toko Sinar, toko kelontong tua di ujung Pasar Lama. Pemiliknya, Opa Lukas, datang ke Jakarta lebih dari lima puluh tahun lalu dengan satu tas dan sebuah Alkitab kecil, pernah kehilangan segalanya, lalu mulai lagi dari gerobak. Opa hanya bertanya satu hal: kamu mau kaya, atau mau kelihatan kaya? Lalu ia mengajak Yosua datang setiap Sabtu malam.
Lewat dua belas Sabtu malam dan lima tahun kehidupan, dengan pelajaran dari Amsal dan perkataan Yesus, Yosua belajar mencatat, menyisihkan, melunasi, bekerja dengan cakap, jujur dalam timbangan, menolak jalan pintas, memberi, bertahan di musim kering, dan merasa cukup. Ia tidak menjadi miliarder. Ia menjadi kaya dengan cara yang tidak bisa dicuri. Buku ketiga seri Iman & Uang.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Rumah didirikan dengan hikmat dan dikukuhkan dengan pengertian; dengan pengetahuan, kamar-kamarnya diisi segala harta yang berharga dan indah. (Amsal 24:3-4)
HP di saku celana Yosua bergetar lagi, dan ia sudah tahu tanpa melihat bahwa itu bukan pesanan.
Getarannya lain. Ia tidak bisa menjelaskan kepada siapa pun bagaimana caranya, tetapi sesudah setahun ia bisa membedakannya. Pesanan masuk dengan bunyi lonceng kecil yang ia pasang sendiri, bunyi yang dulu membuatnya senang. Pesan dari penagih tidak berbunyi apa-apa. Ia hanya bergetar, pendek, dua kali, seperti serangga yang terjebak di balik kain dan mencoba keluar. Malam itu serangga itu sudah mencoba keluar sebelas kali sejak magrib. Yosua menghitungnya, walaupun ia tidak mau menghitung.
Bagian I: Malam-Malam di Toko
Pesanan TerakhirBab 1 · 14 menitGratisBagian II: Musim demi Musim
Timbangan yang JujurBab 7 · 12 menit