
Seri Iman & Uang, Buku 5. Untuk kamu yang ingin uang menyatukan rumah tanggamu, bukan memecahkannya.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesPertengkaran soal belanja bulanan. Utang yang baru ketahuan setelah menikah. Kiriman untuk orang tua yang tidak dibicarakan. Penghasilan istri yang lebih besar dan harga diri suami yang terluka. Biaya pesta adat yang membuat pasangan muda memulai rumah tangga dengan cicilan. Uang sering menjadi sumber pertengkaran yang paling sering, sekaligus rahasia yang paling dalam, di dalam rumah.
Buku ini menemani suami istri dan keluarga mengatur uang dengan iman, bersama Ananias dan Safira yang sepakat dalam kebohongan, Abraham yang mengalah kepada Lot, pesta pernikahan di Kana yang kehabisan anggur, putri-putri Zelafehad yang memperjuangkan warisan, dan Abraham yang menjamu tamu di bawah pohon. Isinya: terbuka satu sama lain, menyatukan dua latar keluarga, rapat keluarga di meja makan, menghormati orang tua dengan batas yang sehat, mengajar anak, memulihkan kepercayaan yang retak, melewati musim sulit, dan menyiapkan warisan.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa, bonus 30 Hari Bicara Uang Berdua, Bahan Rapat Keluarga, dan panduan enam pertemuan untuk komsel keluarga. Buku kelima seri Iman & Uang.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, dan keduanya menjadi satu daging. (Kejadian 2:24)
Di banyak rumah, ada satu meja yang menyimpan lebih banyak cerita daripada perabot lain. Bukan lemari, bukan ranjang, tetapi meja makan. Kadang mejanya dari kayu jati warisan nenek, kadang meja lipat plastik yang kakinya sudah goyang, kadang hanya tikar yang digelar di lantai. Di situ nasi dihidangkan, di situ anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, di situ tamu dijamu. Dan di situ pula, pada malam-malam tertentu, dua orang dewasa duduk berhadapan dengan wajah tegang, di antara mereka selembar kertas tagihan atau layar ponsel yang menunjukkan saldo.
Bayangkan sepasang suami istri yang sudah beberapa tahun menikah. Anak-anak sudah tidur. Lampu dapur masih menyala. Sang istri baru saja menemukan bahwa ada potongan cicilan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Sang suami menjelaskan dengan suara rendah bahwa itu untuk membantu adiknya, bahwa ia tidak sempat bercerita, bahwa ia takut istrinya keberatan. Tidak ada piring yang dibanting. Tidak ada suara keras. Tetapi malam itu keduanya tidur saling membelakangi, dan meja makan yang biasanya hangat terasa dingin keesokan paginya.
Bagian I: Dua Menjadi Satu
Satu Meja, Dua KepalaBab 1 · 11 menitGratisBagian II: Rumah yang Kokoh
Penolong yang SepadanBab 7 · 13 menit