
Seri Iman & Keluarga, Buku 3. Untuk kamu yang sedang merawat orang tua, dan sering merasa lelah, bersalah, atau sendirian.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesAyah yang dulu menggendongmu kini perlu dituntun ke kamar mandi. Ibu yang dulu hafal semua nomor telepon kini lupa namamu. Saudara yang tidak mau ikut menanggung. Malam-malam tanpa tidur, rasa bersalah karena sempat marah, dan pertanyaan yang tidak berani diucapkan: sampai kapan?
Buku ini menemani anak dan menantu yang merawat orang tua lanjut usia, bersama Rut yang tidak mau meninggalkan Naomi, Yakub yang memberkati cucunya dari ranjang, Sem dan Yafet yang menutupi aib ayahnya dengan hormat, jemaat mula-mula yang membagi tugas dengan adil, Yesus yang menitipkan ibu-Nya, Simeon dan Hana yang tetap berbuah di masa tua, dan Paulus yang siap pulang. Isinya: menghormati di masa senja, mendampingi orang tua yang pikun, berbagi beban dengan saudara, merawat diri sendiri sebagai perawat, memutuskan tempat perawatan tanpa rasa bersalah, membicarakan hal-hal yang sulit, dan mengantar orang tua pulang dengan pengharapan.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa, bonus 30 Hari Menemani Orang Tua, Catatan untuk Perawat, dan panduan enam pertemuan untuk komsel. Buku ketiga seri Iman & Keluarga.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Berdirilah di hadapan orang yang rambutnya sudah memutih, dan hormatilah orang yang sudah tua; takutlah akan Allahmu. Akulah Tuhan. (Imamat 19:32)
Di banyak rumah di negeri kita, ada selembar kain yang disimpan di dasar lemari. Kain panjang, kadang batik yang warnanya sudah pudar, kadang tenun yang ujungnya mulai berjumbai. Dulu kain itu dipakai setiap hari. Dengan kain itulah seorang ibu menggendong bayinya ke pasar, ke sumur, ke dapur, ke gereja. Bayi itu tidur di dadanya, terayun-ayun oleh langkahnya, hangat oleh tubuhnya. Ketika bayi itu menangis tengah malam, kain yang sama diikatkan lagi, dan sang ibu berjalan bolak-balik di ruang tengah sampai tangis itu reda.
Bertahun-tahun kemudian, bayi itu sudah dewasa. Rambutnya sendiri mungkin mulai beruban di pelipis. Dan suatu pagi ia mendapati dirinya memegang lengan ibunya yang kurus, menuntunnya pelan-pelan menuruni dua anak tangga di depan rumah. Ia menunggu ibunya mengangkat kaki yang satu, lalu kaki yang lain. Ia menyuapkan bubur ketika tangan ibunya gemetar. Ia mengancingkan baju yang dulu tidak pernah ia lihat terlepas dari badan perempuan yang perkasa itu.
Bagian I: Menghormati di Masa Senja
Aku Tetap MenggendongBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Menemani sampai Akhir
Ke Tempat yang SunyiBab 7 · 10 menit