
Sejarah
oleh Dalo
Kutipan ayat Alkitab diambil dari Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Untuk kamu yang ingin tahu apa yang sebenarnya tercatat tentang orang-orang merdeka di Kampung Tugu.
11 bab · ± 3 jam 27 menit membaca · 2 bab gratis
Pada 1676, empat puluh sampai lima puluh rumah tangga Kristen di Tugu meminta seorang guru. Pada 1689, guru mereka, Domingo Pietersen, menulis kesaksian dalam bahasa Portugis tentang persiapan Kapitan Jonker. Pada Oktober 1740 gereja mereka dibakar, dan penduduk Tugu bersaksi bahwa mereka melihatnya dari tempat persembunyian di hutan. Pada 24 Juli 1748 gereja penggantinya diresmikan, dengan ibadah dalam bahasa Melayu dan Portugis.
Buku ini mengikuti orang-orang merdeka di Tugu, kaum Mardijker, dari arsip VOC di Jakarta dan Den Haag yang dibaca pada citra pindaiannya: resolusi pemerintah, buku harian Kastel Batavia, laporan majelis gereja, dan kesaksian di depan pengadilan. Ia menelusuri dari mana cerita-cerita asal-usul Tugu berasal, tahun 1661, dua puluh tiga keluarga, kapal karam orang Goa, dan sejak kapan orang Tugu disebut keturunan Portugis. Ia juga memberi tempat bagi suara orang Tugu sendiri: karangan seorang Kristen Tugu dari tahun 1880-an, dalam bahasa Kreol Tugu dan Melayu, dan percakapan singkat dengan keturunan mereka hari ini.
Yang belum diketahui tidak ditutupi. Setiap pertanyaan terbuka dicatat dalam Registri Rumpang, dan setiap catatan kaki menyebut di mana sumbernya dibaca.
Pada 1676, empat puluh sampai lima puluh rumah tangga Kristen di Tugu meminta seorang guru. Pada 1689, guru mereka, Domingo Pietersen, menulis kesaksian dalam bahasa Portugis tentang persiapan Kapitan Jonker. Pada Oktober 1740 gereja mereka dibakar, dan penduduk Tugu bersaksi bahwa mereka melihatnya dari tempat persembunyian di hutan. Pada 24 Juli 1748 gereja penggantinya diresmikan, dengan ibadah dalam bahasa Melayu dan Portugis.
Buku ini mengikuti orang-orang merdeka di Tugu, kaum Mardijker, dari arsip VOC di Jakarta dan Den Haag yang dibaca pada citra pindaiannya: resolusi pemerintah, buku harian Kastel Batavia, laporan majelis gereja, dan kesaksian di depan pengadilan. Ia menelusuri dari mana cerita-cerita asal-usul Tugu berasal, tahun 1661, dua puluh tiga keluarga, kapal karam orang Goa, dan sejak kapan orang Tugu disebut keturunan Portugis. Ia juga memberi tempat bagi suara orang Tugu sendiri: karangan seorang Kristen Tugu dari tahun 1880-an, dalam bahasa Kreol Tugu dan Melayu, dan percakapan singkat dengan keturunan mereka hari ini.
Yang belum diketahui tidak ditutupi. Setiap pertanyaan terbuka dicatat dalam Registri Rumpang, dan setiap catatan kaki menyebut di mana sumbernya dibaca.
Prolog, Bab 1, dan Bab 9 bisa dibaca gratis.
Mulai dari 2 bab gratis.
Kalau ceritanya menyentuhmu, lanjutkan sampai tamat. Sekali beli, buku ini tersimpan di rak Koleksiku.
Prolog, Bab 1, dan Bab 9 bisa dibaca gratis.
Dibaca langsung di ponsel atau laptop, tersimpan di rak Koleksiku.
Rp 59.000
Beli Rp 59.000Masuk dengan Google, lalu langsung ke pembayaran.
Akses baca di Webbook, tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu (bukan file unduhan).
Bayar dengan QRIS (semua e-wallet & m-banking) atau transfer VA bank · diproses iPaymu
Siapkan nomor HP aktif: wajib untuk QRIS dan VA.
Tanya lewat email: halo@motivasikasih.idDitulis oleh Dalo. Tentang penulis dan cara buku ini ditulis.
Sebelum membaca: kutipan dari arsip memakai ejaan aslinya, dan terjemahannya menyusul. Kode G-001 dan seterusnya menandai pertanyaan yang belum tuntas; daftarnya ada di Registri Rumpang. Aturan nama, ejaan, dan catatan kaki dijelaskan di Catatan untuk Pembaca, di bagian belakang.
Pada suatu Senin siang di pertengahan Januari 1946, seorang perempuan dari kampung Tugu datang ke komando militer setempat. Ia meminta agar jemaat Kristen di kampungnya diungsikan. Dua hari kemudian, pada Rabu pukul setengah sembilan pagi, sekitar sepuluh truk dari pool tentara dan pengawal Gurkha berangkat dari Priok. Jalan terakhir ke kampung itu harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati lumpur yang dalam. Sekitar pukul tiga sore rombongan pengungsi sudah tiba di Batavia dan ditampung di rumah-rumah kosong di kampung Pedjambon, di belakang Willemskerk.[^p_1]