
Untuk kamu yang menyambut Natal dengan hidup yang belum beres.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 35.000
Masuk untuk membuka aksesDesember datang, lagu Natal mulai terdengar, dan semua orang seakan diminta bergembira. Tetapi kamu tiba dengan kursi kosong di meja makan, pertengkaran yang belum selesai, dompet yang tipis, atau doa yang sudah bertahun-tahun belum dijawab.
Natal pertama juga tidak rapi. Ada imam tua yang sudah berhenti berharap, gadis desa yang hamil sebelum menikah, tunangan yang hampir mundur diam-diam, kandang tanpa kamar, dan gembala yang bertugas malam. Ke dalam semua itulah Allah datang.
Dua puluh lima renungan pendek, satu untuk setiap hari dari 1 sampai 25 Desember, mengikuti empat lilin Adven: Pengharapan, Damai, Sukacita, dan Kasih. Setiap minggu dibuka dengan kisah satu kidung dari tradisi Protestan, dari Luther dan Paul Gerhardt sampai Isaac Watts dan Charles Wesley. Lengkap dengan panduan empat pertemuan Adven untuk keluarga dan komsel, Doa Malam Natal, dan satu halaman untuk yang merayakan Natal sendirian.
Mulai dari 3 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 35.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Bayangkan sebuah keluarga muda yang baru tiba di kota asal sang suami. Perjalanannya jauh, berhari-hari. Sang istri sedang hamil tua. Mereka datang bukan karena ingin berlibur, tetapi karena pemerintah memerintahkan semua orang mendaftarkan diri di kota leluhurnya.
Lalu waktunya tiba. Bayi itu lahir. Lukas menuliskannya dengan sangat singkat, kira-kira begini: Maria melahirkan anaknya yang sulung, membungkusnya dengan kain, lalu membaringkannya di palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka.
Lima kata terakhir itu yang ingin kuajak kamu perhatikan hari ini.
Banyak penafsir menduga bahwa kata yang biasa kita baca sebagai “rumah penginapan” lebih mungkin berarti ruang tamu di sebuah rumah keluarga. Rumah itu sudah penuh. Maka keluarga kecil ini mendapat bagian bawah rumah, tempat hewan biasa ditambatkan pada malam hari. Di situ ada palungan, tempat makan ternak. Ke dalam palungan itulah Anak Allah dibaringkan.
Minggu Pertama: Pengharapan
Kidung Minggu Ini: Nun komm, der Heiden Heiland1 menitGratisMinggu Kedua: Damai
Kidung Minggu Ini: Wie soll ich dich empfangen1 menitMinggu Ketiga: Sukacita
Kidung Minggu Ini: Joy to the World1 menitMinggu Keempat: Kasih
Kidung Minggu Ini: Hark! The Herald Angels Sing1 menit