
Seri Buku Kasus Dimas, Buku 3. Untuk anak 8 sampai 11 tahun yang suka teka-teki dan sains.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 35.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Liburan kenaikan kelas, Dimas dan Kirana kembali ke Tanjung Batu. Sejak Kirana menemukan jejak aneh di pasir pada pagi Natal, desa itu punya kelompok kecil Penjaga Penyu, dan tiga sarang baru di Pantai Timur ditandai dengan tongkat dan tali.
Pada pagi kedua, satu sarang ditemukan berlubang rapi dan telurnya hilang. Lalu sarang lain rusak dengan cara yang sama sekali berbeda. Dengan membaca jejak, membuat cetakan gips, mengukur suhu pasir, dan menunggu dengan sabar, Dimas dan teman-temannya menemukan bahwa jawabannya lebih dari satu, dan salah satunya menuntut mereka jujur sekaligus berbelas kasih.
Novel misteri dan sains tentang penyu, jejak, suhu pasir, dan cahaya bulan, tentang menjaga yang lemah, dan tentang malam ketika hampir seratus tukik merangkak pulang ke laut.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 35.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Delapan puluh tujuh penyu kecil merangkak ke laut Tanjung Batu pada suatu malam di bulan Februari, dan Dimas tidak melihat satu pun.
Ia tahu angkanya karena angka itu tertulis di surat Opa, dengan pensil, digarisbawahi dua kali. Surat itu sudah lecek karena terlalu sering dibuka, dilipat, dan dibuka lagi. Sekarang, di kapal motor yang mengangguk-angguk membelah laut bulan Juni, Dimas membukanya untuk kesekian kali.
Kabar besar dari Tanjung Batu. Sarang dari jejak yang Kirana temukan pagi Natal itu menetas tadi malam. Opa, Oma, dan Pak Teddy menunggu sampai hampir tengah malam. Pasirnya bergerak-gerak dulu, seperti ada yang bernapas di bawahnya, lalu keluarlah mereka. Pak Teddy menghitung pakai senter merah. Delapan puluh tujuh. Semuanya lari ke laut seperti anak sekolah mendengar lonceng pulang.