
Seri Iman & Kepemimpinan, Buku 4. Untuk kamu yang ingin memulai dari kecil, pernah gagal, atau sedang bertumbuh dan takut kehilangan arah.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesIngin memulai usaha, tetapi modalnya kecil dan rasanya tidak berarti. Pernah gagal, dan malu untuk mencoba lagi. Atau usaha mulai bertumbuh, lalu datang tawaran modal besar yang menggoda dan rasa takut kehilangan arah. Ketika fondasi Bait Allah yang baru diletakkan, orang-orang tua menangis karena tampak terlalu kecil. Tetapi Tuhan bertanya: siapa yang berani memandang rendah hari peristiwa-peristiwa yang kecil?
Buku ini menemanimu memulai, jatuh, bangkit, dan bertumbuh bersama tokoh-tokoh Alkitab: Zerubabel dan fondasi yang kecil, Abraham yang berangkat tanpa tahu tujuannya, Elisa yang menyembelih lembu bajaknya, biji sesawi, perempuan Sunem yang membuat kamar kecil di atas atap, Hagai yang berkata perhatikanlah keadaanmu, Petrus yang dipulihkan di tepi danau, Yunus yang diberi kesempatan kedua, Abram yang menolak harta raja Sodom, Uzia yang menjadi kuat lalu sombong, Gideon dan tiga ratus orang, serta Paulus yang dicegah ke Asia lalu dipanggil ke Makedonia.
Dua belas bab dengan renungan, langkah praktis, dan doa, bonus 30 Hari Memulai dari yang Kecil, alat kerja memulai (mencoba kecil dulu, menghitung modal, membaca ulang usaha yang macet, belajar dari kegagalan, memilah tawaran modal), serta panduan enam pertemuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, firman Tuhan semesta alam. (Zakharia 4:6)
Bayangkan seorang perempuan muda yang baru saja memasang papan kecil di depan rumahnya. Tulisannya sederhana: “Terima jahit dan permak.” Mesin jahitnya bekas, dibeli dari tetangga yang pindah kota. Meja potongnya meja makan yang dipinjam setiap pagi dan dikembalikan setiap sore. Pelanggan pertamanya seorang bapak yang minta celananya dipendekkan dua senti. Upahnya cukup untuk membeli seikat sayur.
Malam harinya, sambil menunggu kantuk, ia melihat-lihat ponselnya. Di sana ada orang lain, kira-kira seusianya, yang membuka usaha jahit juga. Bedanya, orang itu sudah punya ruang kerja yang terang, deretan mesin baru, beberapa penjahit, dan pesanan seragam dari mana-mana. Perempuan itu menatap layar lama sekali, lalu menatap meja makan yang masih penuh potongan benang. Sebuah kalimat muncul di kepalanya, pelan tetapi menusuk: “Apa artinya yang kukerjakan ini?”
Bagian I: Memulai
Fondasi yang Membuat Orang Tua MenangisBab 1 · 11 menitGratisBagian II: Jatuh, Bangkit, dan Bertumbuh
Api Arang di Tepi DanauBab 7 · 11 menit