
Seri Buku Kasus Dimas, Buku 2. Untuk anak 8 sampai 11 tahun yang suka teka-teki dan sains.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 35.000
Masuk untuk membuka aksesLiburan Natal, Dimas dan Kirana kembali ke Tanjung Batu. Setiap malam, di bawah dermaga tua di Teluk Utara, air berkelip biru. Ibu-ibu di pasar punya banyak dugaan: penyelam pencari harta, lampu kapal penyelundup, sampai lampu arwah. Sementara itu ikan di Teluk Utara makin sedikit, dan sore hari tercium bau asam dari ujung teluk.
Kali ini Dimas tidak mau cepat menuduh. Di halaman pertama Buku Kasus jilid dua ia menulis aturan baru: jangan menuduh sebelum menguji. Bersama Kirana, Yoel, Meilani, dan Arga, ia mengaduk air dengan tongkat, mengocok botol di dalam kotak gelap, menunggu botol yang meredup, mengintip mikroskop tua Pak Teddy, dan mencocokkan jam dengan pasang surut, sampai menemukan jawaban yang tidak disangka siapa pun.
Novel misteri dan sains tentang cahaya di laut, cara berpikir ilmiah, dan merawat ciptaan Tuhan, ditutup dengan malam Natal yang bercahaya.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 35.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Di halaman pertama buku kasusnya yang baru, Dimas hanya menulis satu kalimat, dan ia menulisnya dengan huruf besar-besar supaya ia tidak bisa pura-pura lupa.
ATURAN BARU: JANGAN MENUDUH SEBELUM MENGUJI.
Buku tulis bersampul biru tua itu masih kaku dan berbau toko. Buku itu datang lewat pos tiga minggu lalu, bersama selembar surat bertulisan miring-miring yang hanya berbunyi: Buku Kasus jilid dua. Yang pertama pasti sudah penuh. Dari Arga.
Buku Kasus jilid satu memang sudah penuh. Penuh petunjuk, penuh gambar, dan penuh coretan. Di salah satu halamannya ada tuduhan yang ditulis terlalu cepat, dan sampai sekarang pipi Dimas masih terasa panas kalau ia teringat halaman itu. Musim libur lalu ia pernah menunjuk seseorang di depan banyak orang dan berkata, “Dia pelakunya.” Ternyata ia keliru. Keliru sekali.