
Seri Sahabat Kecil, Buku 2. Untuk anak 4 sampai 6 tahun, dibacakan sebelum tidur.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 25.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Seorang petani membuka telapak tangannya. Di situ ada sebutir biji sesawi bernama Mungil, kecil sekali seperti titik. Cuit, burung biru berjambul merah, memiringkan kepala: biji sekecil itu, nanti jadi apa?
Petani menanam Mungil di tanah yang gelap. Hujan turun, matahari bersinar, lalu muncul tunas kecil. Tumbuh, tumbuh, pelan-pelan, sampai Mungil menjadi pohon besar tempat burung-burung bersarang, termasuk Cuit.
Cerita bergambar dari perumpamaan Yesus tentang biji sesawi, untuk dibacakan sebelum tidur. Ditutup dengan satu ayat, dua pertanyaan untuk ngobrol berdua, doa kecil, dan kegiatan menanam kacang hijau.
Mulai dari 1 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 25.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Di sebuah desa, ada seorang petani yang punya kebun kecil. Di kebunnya ada sayur, bunga, dan pagar dari batu.
Suatu pagi, petani membuka telapak tangannya. Di situ ada sebutir biji sesawi.
Bijinya kecil sekali, seperti titik. Itulah biji yang paling kecil di antara semua biji.
“Cuit, cuit!” Seekor burung kecil hinggap di pagar kebun.
Namanya Cuit. Bulunya biru, dan di kepalanya ada jambul merah.
Cuit memiringkan kepala. Biji sekecil itu, nanti jadi apa, ya?
“Lihat saja nanti,” kata petani sambil tersenyum.
Petani menggali lubang kecil di tanah. Srek, srek, srek.
Ia menaruh biji itu di dalamnya, lalu menutupnya dengan tanah.
Sekarang Mungil ada di dalam tanah yang gelap.
Tidak ada yang bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa mendengarnya.