Membangun gereja, 1923-1936
Jemaat tanpa rumah
Jemaat yang kelak mengisi gedung ini tumbuh lebih dulu daripada gedungnya. Dari 1923 sampai 1936 mereka beribadah di tempat orang lain: di gereja-gereja tua di tengah kota, di ruang bawah gedung Kunstkring, dan di aula sekolah menengah Kristen di Oranjeboulevard. Kebaktian anak, Kinderkerk, berpindah dari satu ruang pinjaman ke ruang pinjaman lain.
Di seberang kanal, jemaat berbahasa Melayu juga beribadah tanpa gedung sendiri. Pada 29 April 1923 seorang pemimpin awam memimpin tiga kebaktian Melayu dalam satu hari Minggu, salah satunya di barak kavaleri Nieuw-Menteng.
Langkah pertama menuju gedung tercatat pada 7 Desember 1927. De Locomotief memberitakan bahwa majelis Evangelische Gemeente memutuskan membeli persil nomor 177, kira-kira 3.500 meter persegi, untuk gereja dan pastori. Seorang anggota jemaat yang tidak disebut namanya menyumbang 500 gulden sebagai "batu pertama", dan dari sumbangan itu lahir Bouwfonds Kerk Nieuw-Menteng. Siapa penyumbang itu sampai sekarang tidak diketahui.
Penggerak penggalangan dananya adalah Ds. W.J.J. Jenny, pendeta yang pernah bertugas di Ambon dan fasih berbahasa Melayu. Ia wafat di Arnhem pada 19 Juni 1935, sebelum batu pertama diletakkan. Pada upacara batu pertama, ia dan istrinya dikenang sebagai dua orang yang berbuat banyak untuk dana itu.
Arsitek, batu pertama, dan peresmian
Banyak tulisan menyebut Ghijsels sebagai perancang gereja ini. Dokumen sezaman berkata lain. Menurut piagam peletakan batu pertama, perancangnya adalah Ir. N.E. Burhoven Jaspers, firmant atau mitra biro AIA. Ghijsels sudah kembali ke Belanda menjelang akhir 1920-an. Yang menyambungkan rancangan jalan 1918 dan rancangan gereja 1935 adalah biro yang sama, bukan orang yang sama.
Pemilihannya pun tidak sederhana. Menurut Het nieuws van den dag (6 April 1935), majelis semula hanya mengundang dua arsitek, tetapi sekitar sepuluh prarancangan masuk. Ir. Thomas Karsten dari Bandung diminta menilainya. Dua finalis, arsitek Blankenberg dan biro AIA, diminta merinci rancangan, dan pilihan jatuh pada rancangan Burhoven Jaspers. Gambar perspektifnya terbit di koran pada 24 Juli 1935.
Rencana itu memuat angka yang jelas: menara setinggi 35 meter dengan lonceng dan jam di keempat sisinya, lebih dari 600 tempat duduk, denah salib berlengan pendek, dan ruang pertemuan untuk 160 sampai 220 orang. Dana 30.000 gulden sudah tersedia, tanahnya sudah dimiliki, dan sisanya akan ditutup dengan pinjaman obligasi berjangka 25 tahun.
Batu pertama diletakkan pada 3 Januari 1936 di sudut Nassauboulevard dan Logeplantsoen. Yang meletakkannya seorang anak perempuan berusia sebelas tahun, putri Ketua Majelis, Ds. P.J. de Bruyn. Dalam pidatonya, Ds. de Bruyn mengatakan bahwa jemaat sempat berniat meminta subsidi pemerintah, tetapi upaya itu tidak berhasil, sehingga modalnya terkumpul dari kasih dan pengorbanan jemaat. Buku ini mencatat batasnya: modal gedung memang tanpa subsidi, tetapi tanahnya dibeli dari kotapraja.
Pada Sabtu malam, 6 Juni 1936, gedung itu diresmikan. Dr. H. Jansen, Ketua Panitia Pembangunan, menyerahkannya kepada majelis, dan Ds. J.M. Lindeyer menerima kuncinya. Ds. B. Keers memberkati lonceng seberat sekitar 700 kilogram dari pengecoran Van Bergen di Heiligerlee, yang tiba di Batavia dengan kapal Marnix. Mazmur 84 dibacakan dan musik Bach dinyanyikan.
Menurut tradisi jemaat, lonceng bertuliskan Sursum Corda, "Angkatlah hatimu", itu persembahan anak-anak katekisasi. Tradisi ini dicatat dengan hormat, tetapi belum dapat dikukuhkan dari sumber 1936.
Kisah lengkap rancangan kota Menteng, yang menjadi latar seluruh cerita ini, ada di Bab 1 Kota yang Dirancang dari Atas Meja, yang bisa kamu baca gratis.