
Dari pendudukan sampai sebuah nama yang tidak lagi Belanda, 1942–1950.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 110.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Jilid kedua sejarah ilmiah Nassaukerk di Batavia. Di bawah pendudukan Jepang dan tahun-tahun Bersiap, sebuah gereja yang dicap agama Belanda harus bertahan. Sesudahnya datang doa di tengah dua bendera, perpisahan sebuah denominasi, sidang yang melahirkan GPIB pada 1948, dan akhirnya gedung itu menanggalkan nama wangsa kerajaan Belanda dan menjadi Pauluskerk sesudah penyerahan kedaulatan.
Ditulis dari sumber primer sezaman, lengkap dengan catatan kaki, esai teologi peralihan, epilog, lampiran tentang jaringan pendeta pribumi, bibliografi, dan 33 ilustrasi arsip. Nomor bab melanjutkan Jilid I (Bab 9 sampai 13).
Mulai dari 1 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 110.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Pendudukan Jepang, Stigma Agama Belanda, dan Apa yang Diam-Diam Disusun di Kamp Tawanan, 1942–1945
§9.1 Dua Hari Minggu: 15 Februari dan 8 Maret 1942
Pada Sabtu sore, 14 Februari 1942, Bataviaasch nieuwsblad menerbitkan edisinya yang biasa, jaargang 57, Nomor 75, dicetak oleh Kolff & Co. Di antara berita dan iklan, koran itu memuat sesuatu yang sangat rutin: jadwal kebaktian gereja untuk hari Minggu esok, 15 Februari. Daftar itu panjang dan padat, potret kota Batavia yang religiusnya berlapis-lapis. Gereja Protestan berbahasa Belanda di Willemskerk, Nieuwe Kerk, Haagsekerk. Kebaktian Melayu di Buurkerk. Gereja Gereformeerd di Kwitang dengan kebaktian Jawa. Gereja Kristen Tionghoa dengan kebaktian Hokkien, Hakka, dan Mandarin. Katedral Katolik di Waterlooplein dengan lima misa. Gereja Protestan Inggris, First Church of Christ Scientist, dan Bala Keselamatan di Sluiskanstraat. Sebuah kota dengan belasan tradisi yang beribadah berdampingan, mencatat jadwalnya di koran sore seakan-akan hari Minggu depan akan sama seperti semua hari Minggu sebelumnya.[^b09_1a]
Bagian V · Badai
Pendudukan Jepang dan Tahun-Tahun Bersiap, 1942–19461 menitGratisBagian VI · Dari Nassau ke Paulus
Kelahiran Gereja yang Merdeka, 1945–19501 menit