
Seri Sahabat Kecil, Buku 22. Untuk anak 4 sampai 6 tahun, dibacakan sebelum tidur.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 25.000
Masuk untuk membuka aksesBuku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Pagi-pagi sekali, seorang penabur pergi ke ladang dan menebar benih gandum. Ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di antara semak duri, dan di tanah yang baik.
Gemi, cacing tanah yang tinggal di tanah yang baik, ikut bertanya, "Jatuh di mana, benih kecil?" Satu, dua, tiga, empat tempat. Benih yang mana yang tumbuh dan berbuah?
Cerita bergambar dari perumpamaan Yesus tentang penabur: hati kita seperti tanah, dan kita mau mendengar firman Tuhan dengan hati terbuka. Ditutup dengan satu ayat, dua pertanyaan untuk ngobrol berdua, dan doa kecil.
Mulai dari 1 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 25.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Pagi-pagi sekali, seorang penabur pergi ke ladang.
Di pinggangnya ada kantong kain. Isinya benih gandum, kecil-kecil dan kuning seperti madu.
Di ujung ladang, tanahnya cokelat dan lembut. Di situ tinggal seekor cacing tanah bernama Gemi. Badannya merah muda, dan di kepalanya selalu ada sehelai daun kecil, seperti topi.
Penabur memasukkan tangannya ke dalam kantong. Ia menebar benih ke kiri dan ke kanan.
Gemi memanjangkan lehernya. “Jatuh di mana, benih kecil?”
Ada benih yang jatuh di pinggir jalan. Itu tempat yang pertama. Satu!
Jalan itu keras, sudah diinjak banyak kaki. Benih tidak bisa masuk ke dalam tanah. Benih hanya diam di atas.
Lalu datanglah burung-burung kecil yang gemuk.
Patuk, patuk, patuk. Hap! Benih di pinggir jalan habis dimakan burung.