
Untuk kamu yang merasa sendirian, bahkan di tengah keramaian.
Simpan ke koleksimu: buku ini tersimpan di rakmu dan bisa dibaca kapan saja, di semua perangkat.
Rp 50.000
Masuk untuk membuka aksesKamar kos yang sunyi di kota rantau. Rumah yang terlalu sepi sejak pasangan pergi. Pertanyaan "kapan menikah?" yang terus diulang. Ribuan teman di layar, tetapi tidak seorang pun untuk ditelepon tengah malam. Dan kadang, sepi yang terasa justru di tengah keluarga, gereja, atau pernikahan.
Buku ini menemanimu dengan jujur dan lembut, bersama orang-orang dalam Alkitab yang pernah merasa sendirian: Yusuf yang dilupakan di penjara, Daud yang bersembunyi di gua, orang-orang buangan di negeri asing, sida-sida yang merasa seperti pohon kering, pemazmur yang bertanya mengapa jiwanya tertekan, perempuan Samaria di sumur pada tengah hari, dan janda di Nain. Isinya: mengakui sepi tanpa malu, menanam hidup di tempat Tuhan menaruhmu, menghargai hidup lajang, mencari pertolongan ketika sepi berubah menjadi gelap, membangun persahabatan, menemukan keluarga di dalam gereja, dan berpegang pada janji Yesus yang menyertai kita senantiasa.
Dua belas bab pendek dengan renungan, langkah kecil, dan doa, bonus 30 Hari Melangkah Keluar dari Sepi, panduan untuk gereja dan komsel, serta panduan enam pertemuan.
Mulai dari 2 bab gratis.
Buka akses baca sampai tamat dengan Rp 50.000, sekali bayar, tersimpan di akunmu. Dibaca online, bukan file ebook.
Buku tersimpan di rak Koleksiku pada akunmu dan dibaca online di Webbook. Ini akses baca, bukan file ebook, dan tidak bisa diunduh.
Pembayaran aman lewat mitra berizin Bank Indonesia: QRIS (semua e-wallet & m-banking) dan virtual account bank.
Tuhan, perhatikanlah aku dan tunjukkanlah belas kasihan-Mu, sebab aku sebatang kara dan menderita. (Mazmur 25:16)
Ada sepi yang datang dengan suara keras. Pintu rumah yang tertutup sesudah pemakaman. Kamar kos yang terlalu sunyi pada malam pertama di kota orang. Ruang tamu yang lengang sesudah anak terakhir pindah ke luar kota.
Tetapi ada juga sepi yang datang tanpa suara sama sekali. Ia duduk di sampingmu di tengah pesta pernikahan seorang sepupu, ketika semua orang tertawa dan kamu ikut tertawa, tetapi di dalam hatimu ada ruang kosong yang tidak tersentuh oleh tawa itu. Ia ikut pulang bersamamu dari kebaktian hari Minggu, sesudah kamu bersalaman dengan puluhan orang dan tidak satu pun dari mereka benar-benar bertanya bagaimana kabarmu. Ia menyala bersama layar ponselmu pada pukul sebelas malam, ketika kamu menggulir foto-foto orang lain yang sedang makan bersama, berlibur bersama, merayakan bersama, lalu kamu mematikan layar dan berbaring lama dalam gelap.
Bagian I: Mengenali Sepi
Sebatang KaraBab 1 · 12 menitGratisBagian II: Menemukan Sesama
Sumur pada Tengah HariBab 7 · 12 menit