Benarkah Tugu kampung Portugis?
Banyak tulisan menyebut Tugu kampung Portugis. Dokumen-dokumen tertua tentang Tugu tidak memakai sebutan itu. Pada 1676 penduduknya disebut "rumah tangga Kristen". Pada 1735 mereka "jemaat di Tugu". Pada 1744 mereka "jemaat Kristen". Asal-usul mereka tidak disebut.
Kata "Portugis" memang muncul pada abad ke-18, tetapi sebagai nama bahasa dan nama jemaat. Pendeta yang meresmikan gereja Tugu berasal dari jemaat Portugis di kota, dan pada 1747 pemerintah menetapkan ibadah di gereja Tugu dalam bahasa Melayu maupun bahasa Portugis.
Di antara sumber yang dibaca untuk buku Orang Merdeka di Tanah Tugu, tulisan tertua yang menyebut orang Tugu keturunan Portugis adalah surat seorang misionaris bernama Hupe pada 1843. Sesudah itu sebutan tersebut makin sering dipakai, sampai pada 1946 sebuah komunike tentara Belanda menyebut penduduk Tugu keturunan "sebuah permukiman Portugis tua".
Ada kemungkinan lain. Menurut kajian yang dirangkum antropolog Raan-Hann Tan, penduduk setempat dahulu menyebut siapa pun yang Kristen dan berbahasa Portugis sebagai orang Portugis. Bila demikian, "Portugis" mula-mula nama untuk agama dan bahasa, dan baru kemudian dibaca sebagai asal-usul.
Ikatan dengan Portugis tetap hidup dalam ingatan keturunan Tugu. Buku ini memperlakukan ingatan itu sebagai bagian sejarah komunitas, bukan sebagai kekeliruan yang perlu dibetulkan.
Tahun 1661 dan cerita asal-usul
Tahun 1661 sering dipakai sebagai awal Kampung Tugu. Menurut literatur, pada tahun itu sejumlah keluarga Mardijker menetap di Tugu; satu sumber sekunder menyebut dua puluh tiga keluarga. Keterangan tentang 1661 tercetak sejak sejarawan F. de Haan (1922), tetapi dokumen sezaman yang memberikan tanah di Tugu pada tahun itu belum ditemukan.
Cerita asal-usul juga beragam. Ada yang menyebut tawanan Portugis dari Melaka sesudah 1641, ada yang menyebut orang dari Goa, ada pula kisah serdadu Goa yang kapalnya karam di teluk Batavia. Kisah kapal karam dicari dalam buku harian Kastel Batavia dan surat-surat Gubernur Jenderal, tetapi tidak ditemukan dalam sumber sezaman yang diperiksa.
Menariknya, dalam sebuah teks dari Tugu yang diterbitkan ahli bahasa Hugo Schuchardt sekitar 1890, penuturnya berkata bahwa mereka tidak tahu bagaimana sampai tinggal di Tugu. Yang mereka tahu benar adalah bahasa mereka, "bahasa orang Portugis".